Sunday, March 7, 2010

Bangkitnya Kembali Peradaban Islam

Buku : Bangkitnya Kembali Peradaban Islam
Karya : Ahmad Al Qashash
Penterjemah : Utsman Zahid Isma?il As-Sidany
Bisa dapatkan di Khilafahstuff.com

Fakta membuktikan bahwa tampilnya para? Mujtahidin dan Fuqaha diatas pentas diskusi dan perdebatan fiqhiyah dan saling berlomba-lomba untuk dapat menemukan pendapat yang paling benar dalam berbagai maslah fiqhiyah ibarat kelep keamanan bagi masyarakat Islam dan satu-satunya jaminan untuk memperbaiki berbagai kerusakan yang mungkin terjadi di dalamnya. Oleh karena itu, adalah bencana besar bagi umat Islam ketika mereka terperosok kedalam ?jebakan penutupan pintu ijtihad?. Sebab, kekuatan pemikiran fundamental umat Islam yang menjadi tonggak kemajuan dan kebangkitan mereka telah ?dihukum gantung?.


Barangkali ini merupakan salah satu hukum yang paling zhalim dalam sejarah Islam. Pasalnya, ini telah menjadikan seluruh umat Islam, termasuk ulama? dan para fuqaha?nya, menjadi ?berdosa? jika mereka keluar dari rel-rel mazhab-mazhab yang telah ada sebelum penutupan pintu ijtihad. Sehingga ini menyebabkan pemikiran umat Islam menjadi jumud dan langkanya ilmu dan ulama?. Jika pada masa keemasan fiqh kita menyaksikan madrasah-madrasah fiqh yang sangat besar, seperti; Syafi?iyyah, Hanafiyah, Malikiyah, maka pada masa-masa setelah ?dipancungnya? pemikiran ijtihad, kita mampu lagi menemukan fenomena besar itu.

Sementara itu, bahaya terbesar yang sangat mungkin menimpa satu umat di dunia ini adalah ketika umat itu kehilangan identitas peradabannya (civilization identiy). Sebab, identitas peradaban adalah aset yang paling berharga yang dimiliki oleh masyarakat manapun. Terkadang, satu masyarakat ditimpa dengan berbagai bencana yang meluluh lantakannya, menghapuskan kebahagiaanya dan membawa berbagai macam penderitaan. Akan tetapi, sebuah masyarakat yang sadar akan identitasnya, kepribadian peradaban ( syakhshiyyat al-hadlarah)-nya, sudah barang tetntu akan memghadapi berbagai macam bencana yang mengobarkan dan mendorongnya untuk selalu menghadapinya. Hal ini sepanjang peradaban yang menjadi identitas mereka masih memiliki unsur-unsur dan berbagai macam solusi yang mampu dan kapabel untuk menghadapi beban kehidupan dengan berbagai bentuknya. Akan tetapi berbagai macam krisis dan bencana itu, jika menimpa sebuah masyarakat yang lupa akan peribadi, identitas, keperibadian dan berbagai unsur? wujudnya, maka sudah barang tentu umat itu akan berguguran satu demi satu hingga akhirnya terkapar, dan bahkan terkadang menghantarkannya pada kesirnaann dari peta peradaban manusia.

Dengan ditutupnya pintu ijtihad tersebut, sudah barang tentu kita menghawatirkan semakin mendominasi dan merajalelanya pemikiran-pemikiran yang datang dari luar Islam, sehingga pemikiran Islam di seluruh dunia Islam semakin berlumur kotoran pemikiran asing tersebut. Namun, realita tidaklah demikian. Memang benar konstruksi pemikiran Islam telah kehilangan ?kekebalannya? sebab ditutupnya pintu ijtihad. Akan tetapi itu tidak cukup menjadikan unsur-unsur pemikiran dan tsaqafah asing mendominasi dan merajalela. Hal itu dikarenakan unsur-usnur tersebut pada waktu belum memiliki wujud nyata. Berbagai peradaban yang berbenturan dengan peradaban kaum muslimin pada masa awal-awal sejarah Islam bersama dengan futuhat Islamiyah ? yang paling besar adalah dua peradaban, Rumania dan Yunani ? belum memiliki sebuah wujud yang patut diperhitungkan diatas panggung negara-negara di dunia. Buktinya, negara Persia telah mengalami keruntuha, kerajaan Bizantium, warisan perdaban Yunani, juga telah menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara itu, Eropa Barat Katolik, hidup dalam sebuah kehidupan yang tak ubahnya kegelapan malam di tengah pekatnya lautan. Tak satupun dijumpai risalah peradaban yang diemban keseluruh dunia. Adapun Tartar, Mongol dan Turki, sebelum mereka masuk Islam, justru merupakan bangsa yang paling rendah dan terbelakang.? Adapun gerakan terjamah dan telaah terhadap ilmu pengetahuan dan tsaqafah warisan umat sebelum mereka, maka sesunnguhnya itu berhenti pada batas-batas tertentu saja dan telah menghabiskan seluruh tujuannya.

Umat Islam, dalam sejarahnya yang amat panjang, telah berulang kali mengalami berbagai macam? bencana dan kerisis, bahkan, beberapa kali mengalami fase kemunduran yang membasahkan kening dan mencucurankan air mata. Umat ini, dalam sebagian fase sejarahnya telah memperlihatkan perpecahan politik yang bermula sejak masa lemahnya para khalifah dari bani Abbas. Sebagian daerah mereka telah runtuh (baca ; terebut)? disaat perang melawan pasukan? salib. Bahkan, banyak dari daerah-daerah itu runtuh disaat perang melawan pasukan Mongol dan Tartar. Masyarakat Islam, dalam sebagian fase sejarahnya,? telah merasakan sebagian kerisis ekonomi dan berbagai macam kerisis lainnya.? Akan tetapi umat tersebut, setelah mengalami berbagai macam bencana itu, dapat bangkit dan maju menghadapi keterpurukan yang menimpanya, memecahkan berbagai macam problem dan kerisis yang selama ini telah membuatnya tidak dapat tidur. Hal itu ia lakukan diatas landasan akidah yang kokoh, bersumber dari sistem tsaqofah dan keperibadian peradabannya(civilization identiy) , dan demi cita-cita mengembalikan peran sebagai pemimpin dan pemenang dikancah dunia internasional. Barangkali masa kepemimpinan para khalifah Utsmani yang awal-awal adalah contoh paling nampak bagi mulainya kembali kebangkitan yang telah lama tenggelam dalam tertidur dan kemundurannya.

Sungguh sebagian bencana yang telah menimpa umat ini, terlebih bencana penyerangan Mongol dan Tartar, adalah sebuah bencana yang dalam karakter dasarnya dapat menghancurkan entitas peradaban yang ia miliki dengan secara keseluruhan. Andai saja, umat ini tidak dapat melihat kembali identitas peradabannya tentu saja ia tidak akan mampu? lagi meneruskan perjalanan kapal sejarahnya diatas gelombang sejarah untuk beberapa kurun berikutnya. Maka, setelah terjadinya pertempuran peradaban yang diterjuni oleh umat Islam sejak masa awal Islam sampai pada masa Abbasiyah yang pertama, yang mana sepanjang masa itu pula berbagai macam peradaban; Yunani, Romawi, Persi dan yang lain berguguran dihadapan bangunan peradaban Islam, pentas dunia seteril dari? rival yang mengganggu pemikiran masyarakat Islam. Nampak sekali bagi umat Islam seakan peradaban mereka adalah perdaban akhir sejarah. Sementara itu, disekeliling umat Islam tidak ditemukan lagi kecuali bangsa yang ummi, terpisah dari risalah peradaban yang diperhitungkan. Dengan demikian, umat Islam, dalam sejarahnya, adalah satu-satunya umat yang menguasai pradaban dan tsaqafah, di samping sebagai pendekar dalam pentas perpolitikan negara.

Akan tetapi, terdapat sebuah bencana besar yang sebelumnya belum pernah menimpa umat ini telah menongolkan kepalanya sejak permulaan abad IXX M. Yakni ketika nampak diatas pentas negara (dunia) sebuah rival peradaban yang mendorong umat Islam untuk terjun dalam pentas tersebut, setelah beberapa abad yang selama itu pula tidak pernah melihat musuh yang menyerang kecuali dengan pedang, tombak dan berbagai alat militer. Pada waktu itu pula, sejarah menggariskan bahwa entitas Islam sedang menunggu satu peradaban yang sangat maju dan bangikit yang akan mengahadapinya hingga terkoyak-koyakoyaklah seluruh tiang dan hancur leburlah seluruh bangunannya. Jika umat Islam pada masa dahulu adalah satu-satunya umat yang mendominasi seluruh bangsa di dunia secara pemikiran karena kekuatan ideologinya, yakni Islam yang diterapkan dengan baik dan diemban keseluruh penjuru dunia, dan satu-satunya umat yang tak pernah terkalahkan secara militer karena kekuatan imannya, kekuatan ruhiyahnya dan karena cintanya terhadap jihad dan syahid fi sabilillah, kini telah datang masanya bagi bangkitnya satu entitas baru yang akan menghadapi umat Islam dengan pemikiran dan peradaban yang bersumber dari sebuah ideologi baru yang diembannya, dan akan menyerang umat Islam dengan militernya karena kekuatan industri dan teknologinya. Itulah peradaban Barat Kontemporer yang telah sampurna seluruh bangunannya pada awal abad kesembilan belas.

Dalam sejarahnya yang panjang, umat Islam telah menghadapi berbagai musuh dari segala penjuru dan arah. Akan tetapi, musuh yang paling utama dan terus memerangi umat Islam sejak awal lahirnya sejarah Islam? sampai saat ini adalah negara-negara Eropa. Baik dengan wujud kerajaan Bizantinium, yang telah diperangi umat Islam dan ditumpaskan pada tahun 1453 M, atau berupa kerajaan Eropa Barat Katolik, yang telah dikoyak-koyak negaranya di Andalusia oleh umat Islam, atau bahkan tampil dalam wujud negara-negara barat penjajah kontemporer yang berdiri diatas peradaban baru, Kapitalisme Libral.

Padaa masa-masa pertengahan, negara-negara Eropa adalah negara-negara yang tak memiliki sebuah risalah peradaban yang akan mereka emban ke seluruh penjuru dunia. Menyerang berbagai bangsa, khususnya umat Islam, hanya dengan menggunakan satu-satunya senjata yang mereka miliki, yakni perang salib. Oleh sebab itu, pada masa itu, serangan-serangan mereka bukanlah hal yang membahayakan, terlebih bagi sebuah umat yang berdiri diatas sebuah peradaban yang tinggi dan mengakar, seperti umat Islam. Bahkan, perang-perang salib itu, pada dasarnya sama sekali tidak akan mengalami sebuah kesuksesan andai saja situasi dan kondisi yang ada dunia Islam tidak sedang dalam kedaan tercerai berai dan perselisihan internal, akibat berebut kekuasaan dan kepemimpinan. Oleh sebab itu, umat Islam tidak kembali merapatkan barisannya kecuali para pasukan Salib itu akan pulang dengan menyeret sebuah kerugian yang besar.

Akan tetapi kini masyrakat Barat mulai membentuk sebuah masyarakat yang berdiri diatas dasar yang sama sekali baru, membuat sebuah entitas perdaban yang sama sekali baru dan memiliki berbagai macam pemikiran, konsep dan sistem yang mampu untuk menghadapi seluruh dunia, terlebih umat Islam yang sebelumnya menjadi musuh raksasa bagi negara Eropa selama berabad-abad. Sejak permulaan abad kesembilan belas dan disertai dengan meletusnya gerakan pembebasan di Barat, yang dimulai dengan gerakan Prancis pada tahun 1789 M konsep-konsep peradaban Barat Kontemporer semakin bertambah mengkristal dan bertambah sampurna konstruksinya. Masyarakat Barat berdiri diatas dasar pemikiran dan sistem yang sama sekali baru yang tampil dalam Kapitalisme Libral? setelah sebelumnya didominasi oleh sistem Feodalisme. Karena peradaban itu berdiri diatas dasar akidah rasional political (aqidah ?aqliyyah siyasiyah) yang memancarkan berbagai sistem bagi kehidupan, masyarakat dan negara, sudah barang tentu peradaban itu mampu membuat sebuah kebangkitan? di dunia Barat, sebuah kebangkitan yang mampu untuk menghadapi sebuah umat yang sedang terbelenggu dan jumud pemikirannya, buruk dalam penerapan sistemnya dan hidup di atas ?pinggir-pinggir? peradabannya yang besar, yakni umat Islam. Pada abad kesembilan belas, Barat telah mampu memunculkan sebuah peradaban yang menjadikan mata umat Islam terbelalak, bangunan politiknya berdiri diatas dasar yang kuat, masyarakatnya mengalami kebangkitan, kuat dalam bidang ekonomi dan militer dan mampu menciptakan kemoderenan, pembangunan dan teknologi. Dimana pada masa ini, Daulah Islam justru mengalami hal sebaliknya; kehilangan benteng pertahannya satu demi satu, berdatangannya gelombang problem, krisis politik dan ekonomi, lemah dalam bidang militer, terbelakang dalam bidang teknologi dan dengan cepatnya terkesima dengan peradaban Barat.

Semua itu masih ditambahkan dengan kelalaian yang menimpa umat Islam. Setelah mereka sadar akan keunggulan musuh mereka, justru mereka membiarkan berbagai negeri terbuka luas agar diserang oleh musuh dengan peperangannya yang baru, yakni sebuah perang yang bersenjatakan peradaban, pemikiran dan sistem kehidupan. Adapun arena pertempurannya adalah tsaqafah, ilmu pengetahuan dan diskusi. Tentu saja umat Islam dengan seketika itu mengalami kekalahan. Sebab, faktor yang pailng berperan dalam berbagai peperangan adalah faktor maknawi, sampai perang pemikiran sekalipun.? Semntara itu umat Islam sebelumnya telah menyadari kemundurannya dan keterbelakangannya. Mereka kehilangan kepercayaan atas konsep dan sistem Islam. Inilah yang menyebabkan maknawiyah mereka lemah dihadapan musuh mereka yang sedang memiliki maknawiyah yang tinggi dan merasa bangga dengan peradaban dan sistem barunya.

Hal inilah yang kemudian menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benak kaum muslmin; Mengapa barat dapat mengalami kemajuan? Mengapa kita mengalami kemunduran? Apkah Barat telah mengambil sebab-sebab yang menyebabkan mereka kuat, sementara kita telah meninggalkannya? Jangan-jangan kita salah dalam memahami Islam? Jangan-jangan barat telah mengambil kebaikan-kebaikan agama Islam kita? Apakah kita tidak boleh mengambil dari Barat sebab-sebab kemajuan mereka? Bukankah mereka telah mengambil dari kita sebab-sebab kebangkitan yang dulu kita bawa? Tidak mungkinkah memadukan antara Islam dengan peradaban Barat? Tidak bolehkah kita mengambil sebagian sistem Barat? Apakah Islam mengharamkan mengambil manfaat dari orang lain?

Pada saat-saat umat Islam sedang mengalami kebingungan dalam pemikiran dan tercerai berainya hati mereka, Barat dengan ganasnya meluncurkan anak panak beracun, pemikirannya, untuk menyerang Islam, peradabannya, hukum-hukumnya, solusi-solusinya, sistem dan gaya hidupnya. Hal ini secara alamiyah menjadikan perdaban Barat berada dalam posisi menyerang (ofensif), sementara umat Islam dalam posisi terserang dan defensif.

Dan demikianlah faktanya umat Islam lebih memilih memadukan antara Islam dengan peradaban Barat. Mereka mencampur-adukkan hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum Barat, pemikiran dan sistemnya. Jika selama-selama beratus-ratus tahun umat Islam tidak terpengaruh dengan peradaban dan pemikiran asing yang berbenturan dengan mereka kecuali hanya sedikit dari yang sedikit, maka hanya selama puluhan tahun saja, sejak Barat melancarkan perang peradaban dan pemikirannya atas umat Islam, ternyata telah cukup menjadikan tsqafah mereka (umat Islam) menjadi tsaqafah campuran antara pemikiran-pemikiran Islam dan pemikiran-pemikiran peradaban Barat.

Sungguh ini adalah periode? ?Tertutupinya Sebuah Peradaban / al-Tawary al-Hadhary? yang dimiliki oleh sebuah umat yang selama ratusan tahun peradabannya menjadi poros sistem dunia.

Namun, ?tanpa sedikitpun keraguan ? ini hanya sebatas ketergelinciran (kabwah) semata. Dan sebentar lagi umat itu akan kembali tampil diatas panggung dunia, untuk menyerukan dan menkukuhkan bahwa perjalanan sejarah belum usai, dan bahwa kereta kemanusiaan tidaklah berhenti di stasiun peradaban Barat.?.

Teks di atas sedikit cuplikan dari goresan-goresan tangan Ahmad Al-Qashash, seorang ulama? dan intlektual dari Tripoli, Libanon, dalam kajiannya yang sangat mendalam seputar hadharah atau peradaban. Meilhat seklumit saja dari tulisan beliau, nampak sekali bobot pemikiran dan tentu saja juga bobot buku ini yang merupakan buku belaiau yang entah keberapakalinya.
Dalam buku ini, belaiau mengkaji sangat mendalam tema-tema penting seputar lahirnya peradaban Islam yang pertama, dan peradaban lain secara umumnya. Didalamnya beliau juga mengemukakan pendangan para intlektual Barat yang jujur seputar perjalanan sejarah peradaban Islam, selain juga mengkritiki mereka dalam beberapa hal. Dalam buku ini, beliau mengupas tuntas tentang bagaimana peradaban Islam mendominasi dunia selama berabad-abad lamanya.

Ditambah lagi kajian belaiau yang sangat mendalam terhadap fenomena ilmu kalam, filasat dan tashawwuf dari berbagai sisinya yang menjadi perbincangan para sejahrawan bahwa ilmu-ilmu tersebut merupakan ilmu yang diserap oleh masyarakat Islam dari peradaban dan pemikiran umat sebelumnya. atau kata lainnya, umat Islam telah terpengaruh dengan pemikiran dan tsaqafah dan tentu saja peradaban asing. Namun apakah demikian? Al-Qashash membahasnya dengan sangat detail dan mendalam. Ketika kita membaca buku ini, seakan kita ikut hadir menyaksikan peristiwa-peritiwa penting yang terjadi sepanjang sejarah Islam. yang aneh lagi, nampak sekali seakan Al-Qashash adalah seorang sosiolog terkemukan. Ini tentu tidak. Akan tetapi, beliau adalah seorang ulama? yang memang memiliki banyak keahlian, dianataranya dalam bidang sosiologi. Namun tentu sangat berbeda dengan sosiologi yang lain yang? kebanyakan hanya melihat dari kaca mata fenomena luar saja. Al-Qashash mampu melihat dari kacamata yang lain selain kacamata murni sosiologi, yakni ideologi.

Begitulah kira-kira yang dapat saya sampaikan kepada Anda tentang sebuah buku yang sedang dalan proses penyelesaian terjemahannya. Tentu saja saya tidak bisa menjelaskan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, apa yang saya sampaikan tadi, tak ubahnya setetes dari laut yang saya coba percikkan.? Jika Anda telah membaca sedikit cuplikan diatas, dan telah membaca penjelasan saya tadi, lalu Anda tidak tertarik? untuk membaca isi buku secara lengkapnya, menurut saya, Anda akan menyesal dan merasa rugi di kemudian hari. Mengapa demikian? Saya tidak bisa menjawabnya. Dan memang tidak perlu saya jawab. Sebab, jawabannya tertuang secara mendalam dalam buku ini. Doa, saya semoga penerjemah mampu menyelesaikannya dalam waktu yang singkat dan akhirnya segera terbit, dan dapat kita nikmati bersama. Amin.

No comments:

Post a Comment